Skip to content


MENDEBUKAN TELAPAK KAKI SESAAT

Ketika Usamah buin Zaid bersiap – siap keluar di jalan Allah bersama pasukanya sesudah Rasul SAW wafat, keberangkatanya dilepas oleh khalifah pertama, Abu Bakar Ash-Shiddiq RA.
Usamah menaiki hewan kendaraanya, sedang Abu Bakar berjalan kaki. Usamahpun berniat akan turun dari kendaraanya agar khalifahlah yang mengendarainya. Akan tetapi, As-Shiddiq berkata : ” Jangan turun! Demi Allah, aku tidak mau naik. Apalah salahnya aku jika mendebukan telapak kakiku sesaat di jalan Allah.”
Aku dan anda berhenti untuk merenungkan kalimat ini seraya bertanya – tanya : bagaimanakah pendapat anda, apakah hanya saat itu Ash-shiddiq mula – mula mendebukan telapak kakinya? Bukankah ia pernah mendebukanya, bahkan sering sekali? Bukankah dia telah mendebukan telapak kakinya di Makkah saat penolong islam sedikit, hubungan kekerabatan menegang, kenalan menjadi tidak mau kenal, dan banyak pihak merasa senang dengan penderitaan Islam?
Bukankah dia pernah mendebukan telapak kakinya dalam peperangan badar, saat kematian merayap, kekafiran mendidih, dan arwah orang – orang mukmin bertebangan ke surga yang luasnya sama dengan luasnya langit dan bumi? Bukankah ia pernah mendebukan telapak kakinya di medan perang uhud, saat kedua barisan pasukan berhadapan dan banyak pedang yang patah di kepala para pahlawan, dan perang tanding mulai memuncak serta ketakutan mulai terlihat jelas?
Bukankah dia pernah mendebukan telapak kakinya saat ia mengarungi padang sahara Jazirah Arabia menuju ke medan tabuk, sedang rasa lapar memenuhi perutnya, rasa haus mencekik lehernya, panasnya matahari yang terik terasa sampai kesemua pori pori tubuh, dan debu memenuhi kedua lubang hidungnya?
Bukankah dia pernah mendebukan telapak kakinya saat berangkat berpagi hari dan berpetang hari, menguak kegelapan cuaca pagi hari buta menuju sholat berjamaah, dan begitu pula saat menuju ke sholat jumu’ah?
Inilah yang telah dilakukan oleh Anu Bakar Ash-Shiddiq RA, lalu bagaimana dengan kita? apakah yang telah kita lakukan? bilakah kita mendebukan telapak kaki kita? bilakah kita berjihad? Dimana kita melakukan peperangan dan dimana pengorbanan kita?
“BIARKANLAH PUJIAN KEPADA AS-SHIDDIQ MENGUAK KEGELAPAN MALAM DAN BIARKANLAH SEMUA SEBUTAN DIUKIR UNTUKNYA DI URUTAN YANG TERTINGGI”

Posted by : Saiful@Ipunk
Taken from : “Shiyatul Qulub” Dr. Aidh bin Abdullah Al-Qarni

Facebook Comments

Posted in Management Qalbu.


One Response

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. suryo says

    lam kenal. postingan bagus, ini blog siapa yah ?