Skip to content


Jelang Maulid, Waspadai Rabun Dekat Serang Kaum Muslim Dan Santri

Setiap musim maulid ( peringatan kelahiran Rasulullah SAW ) tiba, banyak dari kita kalangan umat islam termasuk para santri yang membaca sholawat-sholawat panjang, diba’i, barzanji, atau simthudduror. Akan tetapi semua itu sebatas dikumandangkan di mesjid-mesjid, musholla, majlis taklim, madrasah atau di rumah – rumah saja.

Saat kita kembali ke kantor, ke pasar ataupun tempat umum lainya, ternyata kantor, pasar,jalanan, atau tempat yang lainnya, kosong dari nilai-nilai akhlaq dan keluhuran budi pekerti seperti yang diajarkan berzanji. Bahkan nyaris tidak ada sepotong hadistpun yang jumlahnya puluhan ribu menjadi standard operating procedure dilingkungan kita. Walhasil Sholawat terus dibaca berzanji selalu dikumandangkan tetapi lingkungan kita semakin jauh dari teladan Rasulullah SAW, bahkan tidak jarang semakin dekat dengan budaya Yahudi dan kapitalistik.

Disisi lain terkadang kita juga terjebak kedalam “pengkultusan” yang tidak diperbolehkan syari’at dan Rasulullah SAW sendiri. Tidak bisa dipungkiri bahwa memuliakan Rasulullah SAW adalah wajib, membaca sholawat kepadanya adalah sunnah, membela kehormatanya adalah fardlu kifayah, bahkan bisa jadi fardlu ain dalam situasi tertentu. Tetapi hal ini seharusnya tidak membawa kita ke jurang “pendewaan’ Rasulullah SAW yang tidak proporsional seperti yang diajarkan Al-Qur’an dan Sunnah Shahihah.

Rasulullah sendiri dalam bebrapa kesempatan pernah bersabda. ” Janganlah kalian terlalu mengagung-agungkan aku seperti halnya kaum kristen mendewakan Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku manusia biasa putra seorang wanita Makkah yang memakan daging yang dikeringkan ( lauk sederhana ). Panggilah aku Rasulallah dan hamba Allah.” ( Shahih Al-Bukhori No.3445. H.R Darimi dan Tirmidzi ).

Banyak diantara kita yang memposisikan Rasulullah SAW terlalu melangit tinggi, dan jauh diatas sehingga mendekati posisi dewa atau anak dewa. Akibatnya beliau menjadi “asing” bagi kita dan tidak bisa ditiru dan dijadikan suri tauladan lagi. karena dengan demikian dimensinya menjadi berbeda antara dimensi kita manusia biasa dan beliau sebagai “manusia kangit.”

Telaah yang seksama atas sunnah nabawiyyah akan mengantarkan kita bahwa Muhammad SAW adalah manusia biasa dengan seluruh sifat kemanusiaannya. Sebagai manusia biasa, ia dilahirkan dengan ayah dan ibu yang jelas, bermain, belajar,bekerja,menikah, dan memiliki keturunan. beliau berjalan di pasar, membawa barang daganganya, menyapu rumah,menjahit pakaian yang robek, memotong daging serta menyiapkan sayuran di dapur. Beliau juga merasakan apa yang dirasakan oleh manusia pada umumnya, seperti rasa harap dan cemas, miskin dan kaya, lapang dan susah, menyemdiri dan bermasyarakat.

Sebagai seorang pemimpin beliau berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dihadapan hukum, memperoleh kemenangan dan kekuasaan, serta merasakan kekalahan dan kesedihan. Tubuhnya tidak terdiri dari besi tetapi daging dan tulang biasa. Kulitnya pernah robek, pelipisnya pernah terluka parah dan dua giginya tanggal terkena pukulan di perang uhud. Satu satunya yang membedakan kita dengan beliau adalah bahwa beliau diamanati wahyu ( plus mukjizat sebagai alat pembuktianya ) dan senantiasa dibimbing Allah jika melakukan satu tindakan atau pilihan yang tidak tepat. Selebihnya Muhammad SAW adalah manusia biasa disamping sebagai seorang Rasul dan Kekasih Allah.

Nah yang dimaksud dengan Rabun dekat dari kalangan muslim dan santri sendiri adalah ketidak mampuan melihat perjalanan hidup Rasulullah SAW secara lengkap dan holistik baik dimensi sosial,politik,militer,edukasi,dan legal kemudian memformulasikan nilai-nilai ketladanan tersebut kedalam suatu model yang dapat diteladani dengan mudah.

Saat ini cara pandang kebanyakan kita terhadap Rasulullah SAW adalah sebagi one-sided. Artinya hanya menjadikan Muhammad SAW sebagai pemimpin keagamaan saja. Wilayah teritorialnya hanya mesjud dan musholla. Kita menjadikan Muhammad SAW sebagai panutan saat kita sholat saja. selebihnya banyak yang kita abaikan begitu saja.

Paradigma diatas, dalam mewaspadai Rabun Dekat Terhadap ajaran Rasul,sangatlah penting untuk ditanamkan sedini mungkin dilingkungan pesantren, agar santri tidak hanya bertindak dalam dimensi praktek ubudiyyah saja. saya ingat betul pesan KH.Mukhlas Hasyim MA, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Al-hikmah 2, Ketika saya dan beberapa teman berkunjung di kediamannya. Saat itu beliau menghawatirkan kondisi santri yang lebih mementingkan dzikir-dzikir hizib ( semacam doa-doa khusus untuk mendapatkan kekuatan tertentu ) ketimbang belajar. ” Santri itu dzikirnya belajar belajar dan belajar, ndak usah dzikir yang macem-macem biar kebal, bisa terbang,mendadak pinter, punya ilmu laduni dan sebagainya.” Tegasnya saat itu.

********sebagian teks disarikan dari buku best seller “Muhammad the super leader super manager”  milik Dr. Muhammad Syafii Antonio. M.Ec.**********

Facebook Comments

Posted in KAJIAN ISLAMI, Umum.

Tagged with , , , , .


12 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.

  1. Pojok Pradna says

    semoga terhindar dari rabun dekat ataupun rabun jauh…
    memang,
    kalau terlalu fokus pada dzikir hizib…dikhawatirkan semakin banyak saja paranormal di Indonesia 😀

  2. novi says

    loh bro, berarti kamu dideketin banyak akhwat bukan karena dzikir to…

  3. dea says

    wah klo yang anak santri masih memahami mawludan sperti rabun dekat bagaimana orang awam yah,,,

  4. liza says

    wah kacau kalau sampai rabun dekat. rabun jauh boleh dong.. hehehhe
    pada intinya saya setuju dengan postingan ini, jangan hanya sekadar ucapan tapi harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari

  5. saifuna says

    Terimaksih atas kunjunganya. Baik rabun dekat ataupun rabun jauh keduanya sama – sama harus kita hindari. Salah satu ketidakmampuan kita mengambil suri tauladan Rasulullah SAW secara holistik dan komprehensif adakah karena adanya distorsi “image” yang muncul dari ekses studi para orientalis. disamping itu para orientalis juga memendam subyektifitas tinggi terhadap islam dan rasulnya. Riset – riset mereka dan misi kajian mereka ke dunia islam memiliki kepentingan di tanah jajahanya, seperti Mesir,India, termasuk, Indonesia. Contoh paling kongkrit adalah misi Snouck Hurgronje ke Indonesia dan sangat khusus di daerah aceh. Karena rakyat Aceh tidak bisa dikalahkan dengan senjata tetapi harus dipecah belah dari sisi tatanan sosialnya antara ulama, penguasa dan tokoh masyarakatnya. inilah yang disebut dengan “RABUN JAUH ORIENTALIS”.

    Maka dari itu, seyogyanya kita pilih yang normal saja sebagi umat yang taat terhadap Allah dan rasul-Nya. Mengamalkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. 🙂

  6. damai says

    yupz, bener banget tuh.

  7. sawali tuhusetya says

    wah, baca judulnya bikin saya terkejut, hehe … memang benar, mas, pengkultusan bisa menjebak kita jadi makin tidak rasional. meski demikian, saya sampai kapan pun tetep mencintai Rasulullah.
    .-= sawali tuhusetya´s last blog ..Pelantikan Pengurus Agupena Cabang dan Diskusi Kepenulisan =-.

  8. sauskecap says

    pas baca judulnya rada bingung…. ternyata maksudnya carra pandang kepada Rasul…

  9. azzahra Poetri says

    judulnya menggelitik sekali jadi ingin tahu isinya…. cara yang bagus buat menarik orang membaca….. ^_^
    .-= azzahra Poetri´s last blog ..so in love ( love story in harvard) =-.

  10. tukangpoto says

    Saat ini yang perlu dikhawatirkan adalah pengkhultusan banyak orang terhadap uang..yang memang diperlukan untuk membiayai kehidupan sehari-hari.

  11. adelay says

    Iya..
    jangan sampai kondisi peng-kumandangan hal2 tersebut menjadi terbatas disitu saja.

    Tidak meresap dan menjadi kosong nilai akhlak dan keluhuran budinya.
    .-= adelay´s last blog ..Singapore Halal Culinary: Episode Makanan India =-.

  12. ulfa says

    Allahhumma sholli ‘alaa muhammad…………